31 Agustus 2007



SEBUAH PELAJARAN DARI TONG SAMPAH

Seorang pria tua yang bijak memutuskan untuk pensiun dan membeli rumah mungil dekat sebuah SMP. Selama beberapa minggu ia menikmati masa-masa pensiunnya dengan tenang dan damai. Kebetulan saat itu sedang masa liburan sekolah. Tak berapa lama kemudian, masa sekolah tiba. Dan, sekolah itu pun penuh dengan anak-anak. Suasana tenang dan nyaman menjadi sedikit berubah. Namunyang paling menjengkelkan pak Tua adalah, setiap hari ada tiga anak laki-laki lewat di depan rumah yang suka memukuli tong sampah yang ada di pinggir jalan. Mereka membikin keributan sepanjang hari dan berulah seolah-olah menjadi pemain perkusi hebat. Begitu terus dari hari ke hari. Sampai akhirnya pak Tua merasa harus melakukan sesuatu pada mereka.

Keesokan harinya, pak Tua keluar rumah sambil tersenyum lebar menghampiri tiga anak laki-laki yang sedang asyik memukuli tong sampah. Ia menghentikan permainan mereka, dan berkata, "Hai, anak-anak! Kalian pasti suka bersenang-senang. Saya suka sekali dengan cara kalian bersenang-senang seperti ini. Sewaktu saya masih kecil, saya juga suka bermain-main seperti kalian. Nah, apakah kalian mau saya beri uang?" "Mau.. mau.." sahut ketiga anak itu serempak. "Okay, begini," pak Tua itu tersenyum. Lalu ia mengeluarkan tiga lembar uang ribuan dari sakunya. Katanya, "Masing-masing dari kalian saya beri uang seribu. Tapi kalian harus berjanji mau bermain-main di sini dan memukuli tong sampah ini setiap hari." Anak-anak itu senangnya luar biasa.

Sejak itu setiap hari mereka "bekerja" memukuli tong sampah itu dengan penuh semangat. Beberapa hari kemudian, pak Tua itu menghampiri dan menyambut "pekerjaan" mereka dengan penuh senyum. Namun kali ini senyumnya tampak agak sedih. Katanya, "Nak, kalian tahu khan situasi krisis akhir-akhir ini membuat uang pensiun saya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari." Ia menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak itu menunggu apa yang diucapkannya. Lanjut pak Tua. "Mulai hari ini saya hanya bisa membayar kalian lima ratus saja untuk tugas kalian memukuli tong sampah ini." Anak-anak itu tampak kecewa dengan keputusan pak Tua, namun mereka masih bisa menerimanya. Lalu mereka melanjutkan tugas mereka membuat keributan sepanjang hari.

Beberapa hari kemudian, pak Tua itu dengan wajah memelas mendekati anak-anak yang sedang memukuli tong sampah. Katanya, "Maaf, bulan ini saya belum menerima kiriman uang pensiun. Saya hanya bisa memberi kalian bertiga seribu Rupiah saja." Apa..? Seribu untuk bertiga?," protes pemimpin pemain tong sampah itu. " Apa pak Tua kira kami ini mau menghabiskan waktu kami di sini hanya untuk uang segitu? Ah, yang benar saja! Pak Tua ini tidak masuk akal. Mulai hari ini kami tidak mau lagi melakukan tugas ini lagi. Kami keluar." Ketiga anak lelaki itu pergi meninggalkan pak Tua itu dengan bersungut-sungut. Dan, sejak hari itu pak Tua menikmati ketenangan hingga akhir hayatnya. Begitulah bila kita mencampur-adukkan kegembiraan hati dengan "uang gaji". Seringkali kita kehilangan keceriaan hanya karena kita menganggap "keceriaan" itu adalah sebuah pekerjaan yang dibayar, maka bila "bayarannya" berkurang maka kesenangan pun jadi berkurang. Jangan sampai kegembiraan anda menghilang di balik beberapa lembar uang gajian belaka.

ex-smp68-jkt@yahoogroups.com


29 Agustus 2007

BERSABARLAH MENUNGGU TERKABULNYA DOA


Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar

Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita lihat seseorang yang berdoa namun tiada terkabulkan. Sekian lama ia manantikan terkabulnya doa dengan mengulang-ulang doa yang sama namun tak jua terkabulkan. Beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca buku Imam Ibnu Al Jauzy yang berjudul Shaidul Khatir, ada pembahasan yang menarik disana tentang kesabaran dalam menunggu terkabulkanya doa. Menurut beliau dalam menunggu terkabulkannya doa agar kita tetap bersabar adalah dengan menamkan pemahaman serta keyakinan pada jiwa ini bahwa :

  1. Allah adalah Maha Raja yang memiliki kekuasaan dan wewenang untuk memberi atau pun tidak memberi. Oleh karena itu , tidak ada alasan bagi kita untuk menentang kuasaNya.
  2. Hikmah-hikmahnya telah tergambar dengan jelas lewat dalil-dalil yang absah. Mungkin kita menilai, sesuatu itu baik untuk kita, namun sebenarnya dibalik itu ada hikmah yang tidak kita ketahui. Coba kita ambil pelajaran dari seorang dokter yang memberikan resep yang tidak kita ketahui hikmahnya, karena secara lahiriah obat adalah pahit. Hal itu bisa kita bandingkan dengan hikmah Allah.
  3. Bisa saja suatau doa ditunda untuk suatu kemaslaatan, sementara jika doa segera dikabulkan akan menimbulkan bahaya. Rasulullah SAW pernah bersabda,”Seseorang akan berada dalam kebaikan selama ia tidak tergesa-gesa berkata, ‘saya berdoa namun tidak kunjung dikabulkan’ ”.
  4. Bisa saja doa kita tertolak karena aib yang kita simpan dalam diri kita. Mungkin saja dalam makanan yang kita konsumsi ada sesuatu yang syuhbat atau hati kita lali saat kita berdoa. Mungkin saja karena kita tdak sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah, karena tidak bersegera meningglkan perbuatan dosa. Pernah diriwayatkan oleh Abu Yazid, suatau ketika ada orang asing datang kerumahnya. Dia melihat oarng itu bersiri didepan pintu rumahnya. Disuruhnya ia masuk dan masuklah tamu itu. Abu Yazid lantas mengeluarkan batu-batu kecil, sementara itu sang tamu berdiri dan segera keluar. Abu Yazid ditanya tentang apa yang dilakukannya. Dia menjawab “Kerikil ini mengandung syuhbat, ketika Syuhbat itu hilang maka pelakunya pun pergi.”
  5. yang harus kita lakukan adalah memandang persoalan ini adalah berusaha memandang segala sesuatu denga jernih. Barangkali denga tercapainya apa yang kita inginkan akan bertambah pula dosa-dosa kita. Atau bisa jadi hal itu akan mengurangi derajat amal kita dalam kebaikan. Maka tidak dikabulkannya doa-doa kita saat ini akan berakibat baik untuk kita.
  6. Mungkin saja apa yang tidak kita capai itu merupakan rahmat agar kita tetap dekat dengan pintuNya. Di sisi lain keberhaislan kita dikhawatirkan akan menjauhan kita dari pintu harpan kepadaNya, dengan dalil apabila kita tidak tertimpa musibah, mungkin kita tidak terlalu dekat denganNya

27 Juli 2007

Digantung!!!

Sebuah surat kabar terkemuka terbitan Jakarta menurunkan headline dengan judul besar di halaman depan, '50 % PEJABAT TINGGI KITA KORUPTOR DAN PENJAHAT'.

Tentu saja keesokan harinya sang pemimpin redaksi dipanggil menghadap Mabes TNI. Si pemimpin redaksi dimaki-maki dan diminta segera meralat beritanya. Bila tidak, SIUP-nya bakal dicabut.

Maka keesoka harinya dimuatlah ralat berita sehari sebelumnya. Berikut ralatnya secara lengkap:

"Dengan ini kami meralat headline kemarin yang berjudul '50 % Pejabat Tinggi Kita Koruptor dan Penjahat', yang ternyata sama sekali tidak benar. Yang benar adalah '50 % PEJABAT KITA BUKAN KORUPTOR DAN BUKAN PENJAHAT'. Dengan demikian, headline yang kami turunkan dianggap tidak pernah ada.."

Esoknya si Pemred digantung!

Sumber dari ini

18 Juli 2007

MENGASAH KAPAK

Alkisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat. Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerjayang diterimanya sangat baik. Karenanya sang penebang pohon memutuskan untukbekerja sebaik mungkin.

Sang majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, "Bagus, bekerjalah seperti itu!" Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari sang penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang

pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. "Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku", pikir penebang pohon itu. Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. "Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?" sang majikan bertanya."Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon," katanya. Catatan: Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. "Di masa sekarang ini, banyak orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka lebih tidak berbahagia dari sebelumnya. Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam? Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras. Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi, menyediakan waktu untuk membaca, dan lain sebagainya.

Kita semua membutuhkan waktu untuk tenang, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan bertumbuh. Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas. Jadi mulailah dari sekarang, memikirkan cara bekerja lebih efektif dan menambahkan banyak nilai ke dalamnya.

ex-smp68-jkt@yahoogroups.com

17 Juli 2007

Yang Mana Yang Benar


Ada pepatah mengatakan "Tak akan lari gunung dikejar", memang sih pepatah itu menurutku mengandung makna yang adiluhung. Kita sebagai manusia harus "sabar" bila menghadapi sesuatu, dengan cataan jika kita sudah yakin usaha kita sudah maksimal, maka sabar itu yang harus kita upayakan. Misalkan sebuah rejeki yang sudah kita upayakan sebenarnya itu sudah ditentukan oleh Allah, tergantung kita mau usaha maksimal atau tidak untuk mendaptknnya. Ingat Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak berusaha merubah nasibnya sendiri. Santai saja sobat bila kita sudah berusaha maka, hasilnya kita serahkan sama Allah SWT. Itu yang namanya sabar yang proaktif.

Di sisi lain, ada juga pepatah yang mengatakan "Siapa cepat dia yang dapat ". Bila dimaknai secara sepintas kedua pepatah tersebut saling bertolak belakang, yang satu terkesan santai-santai yang satunya memotivasi kita untuk segera bisa memutuskan sesuatu yang akan kita lakukan bila kita ingin mendapatkan yang terbaik. Jalan apa tidak? Sekarang atau nanti? Kalau nanti aku dapat apa?
Namun sebenarnya menurutku kedua pepatah itu saling mendukung, artinya jika itu sebuah kebaikan kita tidak perlu mikir-mikir melakuakanya karena siapa yang cepat dia yang dapat, setelah kita berusaha dan berdoa barulah kita menunggu hasilnya, gak usah khawatir dengan apa yang akan terjadi, karena tidak akan lari gunung dikejar, semua sudah ditentukan oleh sang Maha Pengasih dan Penyayang. Manusia boleh berusaha, tetapi Allah yang menentukan hasilnya.